Kamis, 03 Maret 2016

Hujan dan langit

Saat air hujan membasahi pertiwi.
Kini wajahnya telah terbasuh suci,
Dari nista yang mengotorinya.
Oleh para pendosa budak nafsu.
Yang hanya mengumbar syahwat.
Dari para gadis yang suci hatinya.
Membelenggu para putri.
Dari tiap jengkal kerajaan.
Dijajah dan diperbudakkan.
Syahwat dan politik picik.
Dalam lingkaran setan terkutuk.

Akulah sang hujan.
Akulah sang langit.
Kamilah utusan dari yang kuasa.
Penyatukan pertiwi dan langit.
Di bawah naungan harapan.

Dalam sisi yang kasih.
Dalam sisi yang tulus.
Saat pertiwi kehilangan asa.
Kamilah yang harus jadi asa.
Meski gelap menguasai bumi.

Kami tetap nyalakan lentera.
Walau kecil diantara tabir.
Cahaya ini akan jadi saksi.
Perjuangan mendobrak tirani.

Dari ujung timur hingga barat.
Dari ujung negeri hingga istana.
Kami berjuang atas dasar iman.
Walau engkau menolak kami.
Pada periode yang lampau.

Kami tetap bersamamu.
Melindungi harga dirimu.
Yang kini diperdagangkan.
Walau engkau kini terjatuh.
Kami akan menolongmu
Untuk bangkit dan berdiri.
Menatap cita yang dulu ada.
Di dalam relung hatimu.
Agar dapat berkobar lagi.
Membangun dan menata.
Reruntuhan yang dulu ada.

Setidaknya langkah kami
Membuatmu tersenyum lagi.
Dari masa-masa kelam.
Untuk melihat mentari lagi.

Kyota hamzah
2/12/2015